PESAWARAN, SUMATV – Minggu Siang (18/05/2025) udara di Kabupaten Pesawaran terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena badai akan datang, melainkan karena angin debat telah bertiup kencang. Di panggung terbuka yang digelar KPU, dua pasangan calon 01 dan 02 beradu gagasan, membentangkan narasi, menyulam harapan, dan menyisipkan sindiran, seolah rakyat hanyalah benang yang bisa ditarik ke mana arah angin meniup.
Disiarkan secara terbuka, debat itu seharusnya menjadi jendela bagi rakyat. Tapi sayang, kadang jendela itu buram oleh embun kata-kata manis yang disemprotkan berlebihan. Kedua paslon tampil bak penjual madu di pasar malam: sama-sama menjanjikan manis, sama-sama memoles botolnya dengan label “perubahan” dan “lanjutan”, namun isi sebenarnya baru akan terasa saat kita meneguknya, setelah pesta demokrasi usai.
Paslon 01 hadir dengan napas pembangunan dll sedangkan Paslon 02 datang dengan semangat pembaruan. Saling sikut dalam senyum, saling sindir dalam sopan, debat ini lebih mirip pertunjukan wayang di mana dalangnya gonta-ganti, tapi ceritanya tetap saja tentang kuasa.
Rakyat Pesawaran, si penonton setia yang selama ini hanya diberi peran sebagai tukang sorak atau sekadar pemilik jari untuk mencoblos, kini mulai sadar: mereka adalah pemilik panggung sebenarnya. Tanggal 24 Mei 2025 bukanlah sekadar jadwal mencoblos, tapi hari di mana rakyat menentukan siapa yang akan memegang tongkat komando – bukan untuk pamer kekuasaan, tapi untuk memimpin kapal bernama Pesawaran ke arah yang lebih waras.
Asen Mulyanto, mengingatkan dengan nada yang lebih dalam dari sekadar nasihat. “Pemimpin itu tempat menampung salah, tempat mengadu, tempat rakyat menggantung harapan. Jika keliru, kita wajib mengingatkan. Jangan biarkan mereka melenggang di jalan yang salah hanya karena takut kehilangan muka. Kekuasaan tanpa koreksi akan berubah menjadi tirani yang diselimuti senyum manis,” ucapnya, Senin (19/05/2025).
Bahasa Asen mungkin sederhana, tapi maknanya menusuk: rakyat bukan hanya alat tukar suara, melainkan pengawas abadi yang tak bisa dibungkam dengan baliho dan amplop. Siapa pun yang terpilih, entah satu atau dua, harus tahu bahwa mereka bukan naik tahta, tapi turun ke medan kerja. Bukan untuk mengangkat diri, tapi mengangkat daerah.
Kini, kita menunggu hari penentuan. Debat telah selesai, sandiwara kata telah usai, dan rakyat Pesawaran bersiap menjadi hakim sejati. Siapa yang memimpin kelak, harus paham satu hal: kekuasaan itu bukan hak, tapi titipan. Dan setiap titipan, cepat atau lambat, akan ditagih pertanggungjawabannya.
Di negeri kecil bernama Pesawaran ini, panggung demokrasi sedang bersinar terang. Tapi jangan sampai cahaya itu hanya datang dari lampu sorot debat. Terang yang kita butuhkan adalah dari tindakan nyata, bukan sekadar suara lantang di podium. Sebab jika tidak, yang tersisa hanya gema janji yang menguap, dan rakyat yang kembali ditinggal setelah dipuja sesaat.
Mari kita buka mata dan telinga. Mari kita jadi rakyat yang tak sekadar hadir di bilik suara, tapi juga hadir di ruang pengawasan. Karena sejatinya, pemimpin hanyalah cermin dari siapa kita memilih, dan siapa yang kita biarkan diam saat mereka salah melangkah.(asen)
